manusia latihan rohani

Refleksi Kearifan Lokal “Garebeg Gethuk” Magelang

 

Peringatan Hari Jadi Kota Magelang ke-1104

Walikota Magelang dan para pejabat naik beberapa kereta kencana yang ditarik sejumlah kuda pilihan secara beriringan dari Gedung Sasana Kiai Sepanjang Kota Magelang menuju Alun-alun. Beberapa prajurit keraton juga ikut menyemarakkan kirab ini, yang tampil dengan pakaian seragam khas. Kirab ini merefleksikan masyarakat dan pemerintah zaman kesejarahan Magelang (zaman Mataram Kuna), yang diikuti dengan arak-arakan. Ratusan seniman dari Kota dan Kabupaten Magelang sengaja merancang acara peringatan hari jadi Kota Magelang yang ke-1104 ini dengan pesta budaya dan kesenian bertajuk “Garebeg Gethuk”.

Gethuk sebagai makanan khas Kota Magelang menjadi ikon Kota Magelang yang membedakan dengan daerah lain di Kabupaten Magelang. Di bagian belakang pohon beringin di tengah alun-alun terpajang karya seni wayang gethuk berbentuk gambar tokoh wayang Kresna setinggi 2,5 meter dan lebar 110 cm yang melengkapi penampilan Wayang Orang dengan lakon berdirinya Kerajaan Indraprasta. Apa yang menarik adalah karya tokoh wayang tersebut terbuat dari 16-18 kg gethuk.

Garebeg Gethuk itu sendiri ditandai dengan tarian “Ruwat Gethuk” yang menceritakan sejarah berdirinya Kota Magelang yang bersumber dari Prasasti Mantyasih. Empat tumpeng ukuran raksasa dengan tatanan ratusan gethuk khas Magelang diarak oleh puluhan orang dari halaman Masjid Agung Kauman Kota Magelang menuju alun-alun setempat untuk diperebutkan masyarakat.

Seperti dilansir Antara, Koordinator Lapangan “Garebeg Gethuk Magelang 2010”, Tri Setyo Nugroho, mengatakan bahwa kegiatan itu sebagai upaya menguatkan ikon Kota Magelang sebagai kota budaya. “Setiap tahun kegiatan ini akan dinanti masyarakat, menjadi ikon Kota Magelang, menjadi imej budaya,” katanya.

 

Refleksi Kearifan Lokal Garebeg Gethuk

Lantas, apa yang bisa kita refleksikan dari peringatan hari jadi Kota Magelang yang dikemas dalam bentuk Garebeg Gethuk? Garebeg Gethuk itu sendiri ditandai dengan pesta kesenian dan kebudayaan yang kental suasana kearifan lokal khas Kota Magelang, seperti tarian “ Ruwat Gethuk” yang menceritakan sejarah berdirinya Kota Magelang, perarakan para pejabat Pemkot setempat yang menggunakan pakaian kebesaran adat Jawa, dan puncak dari keseluruhan acara itu adalah perarakan empat tumpeng raksasa dengan tatanan ratusan potong gethuk khas Magelang.

Garebeg Gethuk itu sebenarnya menjadi refleksi dari kearifan lokal Kota Magelang. Seperti dikatakan Tri Setyo Nugroho selaku koordinator lapangan, bahwa Garebeg Gethuk menjadi saat di mana setiap masyarakat Kota Magelang kembali diingatkan akan sejarah berdirinya Kota Gethuk ini. Dengan demikian, gethuk tidak sekedar menjadi oleh-oleh khas Magelang, tetapi telah menjadi identitas masyarakat Kota Magelang yang tak terpisahkan. Gethuk menjadi refleksi betapa membangun suatu negara agar masyarakatnya hidup makmur itu membutuhkan perjuangan, prihatin, jujur, dan hati yang bersih.

Gethuk telah menjadi simbol perjuangan dan pembangunan masyarakat Kota Magelang. Itulah sebabnya Garebeg Gethuk dipilih sebagai lambang kearifan lokal Kota Magelang yang merefleksikan hari jadi Kota Magelang ke-1.104. Garebeg Gethuk adalah artikulasi dari semangat paseduluran masyarakat Magelang yang terkenal dengan keramahan dan kehalusan budinya. Garebeg Gethuk lahir sebagai salah satu anak sejarah era informasi dan globalisasi dimana manusia sudah sangat sulit dipisahkan dari dunia internet, satu ikon kemajuan sejarah peradaban manusia.

Garebeg Gethuk sedikitnya semakin menegaskan pentingnya pemuliaan kearifan lokal dalam menciptakan kesejahteraan umum. Dalam usaha pembangunan bangsa, kearifan lokal daerah mendapat prioritas tersendiri. Indonesia tidak mungkin dapat menjadi bangsa yang maju jika berjalan tanpa menghiraukan kearifan lokal daerah. Kearifan lokal harus dikembangkan bukan untuk kepentingan lokalitas, tetapi justru penting untuk membangun landasan keindonesiaan.

Garebeg Gethuk sebagai wujud nyata artikulasi kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat Magelang sekaligus menjadi kekayaan budaya yang turut menyumbang dalam pembangunan landasan kearifan Indonesia. Langkah paling nyata dan sederhana yang dapat dilakukan tentu dengan memberdayakan komunitas yang bersumber dari kedalaman akar rumput. Komunitas semacam itu menjadi penggerak utama sekaligus pemelihara wawasan kearifan lokal daerah. Melalui Garebeg Gethuk diharapkan akan terbina suatu persemaian benih kearifan lokal yang terus hidup dan berkembang untuk menciptakan kearifan Indonesia.


samudra kehidupan

THE ARK

Samudera Kehidupan


Kutermenung di ujung harapku
Usang rindu di dalam batinku
Ketika s’gala daya, temaram dalam lelah

Sabdamu cerahkan jiwaku
Menopang hidup yang kurindu
Karna lembut sapaMu, memeluk diriku

Reff
Datanglah padaNya, hati bimbang dan ragu
Karna Ia kan menemanimu
Tebarkan jalamu, arungi samudera
Percaya padaNya,
Dia akan selalu menaungimu

Berjalanlah kau tanpa ragu
Padamkanlah kekuatiranmu
Bimbang tak kan menjeratmu
karna Ku sertamu



aku bak binarangkawan

adakah yang hendak menjadi

binaranglawan?!


11
To Tumblr, Love PixelUnion

We're updating Fluid!

Soon, we'll be updating the look and feel of this theme. Read about the changes here. You can easily turn off this notification in the theme customization panel.

Close